Kamis, 19 November 2015

FamGath 7 Nopember 2015



Family Gathering Petrosea’99 dengan mengambil tema “Seduluran Selawase” Adalah kegiatan yang dilakukan oleh keluarga besar Petrosea’99 dalam rangka mempererat hubungan silaturahim dan menumbuhkan keakraban antara sesama "mantan" penghuni barak Petrosea, (baik yang permanen maupun yang hanya tinggal saat kewiraan) dan seluruh anggota keluarga baik istri, suami, dan anak-anak dari seluruh karyawan angkatan 99 tersebut. Yang membuat acara ini semakin spesial tentu saja karena semua kegiatan dari planning sampai selesai semua digagas oleh  Ibu-ibu "Pioneer" Petrosea.

Sebagaimana Gathering pada umumnya, acara ini diisi dengan acara Fun-fun seperti jalan santai dan acara lain yang menghibur seperti game, berbagai award dll. Permainan-permainan bersifat low impact games yang dikemas dengan menarik dan menyenangkan.
Tujuan dari Outbound/ family Gathering :
  1. Mengenal lebih dekat keluarga besar Petrosea’99.
  2. Menumbuhkan kebersamaan dan keakraban dalam tim.
  3. Meningkatkat kualitas hubungan interpersonal dengan lebih mengenal dan memahami satu dengan yang lain.
  4. Memberikan alternatif kegiatan yang menghibur untuk menghilangkan stres dan penat karena beban kerja.
  5. Merefresh kembali semangat, pikiran, dan emosi agar lebih rileks dan senang.
  6. Menumbuhkan semangat kerjasama untuk mencapai tujuan.
  7. Meningkatkan kekompakan dan kesolidan dalam tim kerja.
LOKASI OUTBOUND :
Loaksi Outbound/Family Gathering di Danau Permai PC VI PT.Pupuk Kaltim-Bontang.
Beberapa Personel Petrosea'99
Para Pendukung Suami
Beberapa Junior

  • Abadikan Moment

Karena Sepatu Kita tak Sama

Oleh Salim A. Fillah
     
"seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya
  memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti
  memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan
  kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi"


Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.

Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil melantunkan Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya,

“Masya Allah” ’Utsman berseru, ”Bukankah itu Amirul Mukminin?!” sambil mengamati lelaki yang berlari-lari dipadang tersebut.

Ya, lelaki tinggi besar itu adalah ‘Umar ibn Al Khaththab.

”Ya Amirul Mukminin!” teriak ‘Utsman sekuat tenaga dari pintu dangaunya,

“Apa yang kau lakukan tengah angin ganas ini? Masuklah kemari!”

Dinding dangau di samping Utsman berderak keras diterpa angin yang deras.


”Seekor unta zakat terpisah dari kawanannya. Aku takut Allah akan menanyakannya padaku. Aku akan menangkapnya. Masuklah hai ‘Utsman!” ’Umar berteriak dari kejauhan. Suaranya menggema memenuhi lembah dan bukit di sekalian padang.

“Masuklah kemari!” seru ‘Utsman,“Akan kusuruh pembantuku menangkapnya untukmu!”.

”Tidak!”, balas ‘Umar, “Masuklah ‘Utsman! Masuklah!”

“Demi Allah, hai Amirul Mukminin, kemarilah, Insya Allah unta itu akan kita dapatkan kembali.“

“Tidak, ini tanggung jawabku. Masuklah engkau hai ‘Utsman, anginnya makin keras, badai pasirnya mengganas!”

Angin makin kencang membawa butiran pasir membara. ‘Utsman pun masuk dan menutup pintu dangaunya. Dia bersandar dibaliknya & bergumam,

”Demi Allah, benarlah Dia & RasulNya. Engkau memang bagai Musa. Seorang yang kuat lagi terpercaya.”

‘Umar memang bukan ‘Utsman. Pun juga sebaliknya. Mereka berbeda, dan masing-masing menjadi unik dengan watak khas yang dimiliki.

‘Umar, jagoan yang biasa bergulat di Ukazh, tumbuh di tengah bani Makhzum nan keras & bani Adi nan jantan, kini memimpin kaum mukminin. Sifat-sifat itu –keras, jantan, tegas, tanggungjawab & ringan tangan turun gelanggang – dibawa ‘Umar, menjadi ciri khas kepemimpinannya.

‘Utsman, lelaki pemalu, anak tersayang kabilahnya, datang dari keluarga bani ‘Umayyah yang kaya raya dan terbiasa hidup nyaman sentausa. ’Umar tahu itu. Maka tak dimintanya ‘Utsman ikut turun ke sengatan mentari bersamanya mengejar unta zakat yang melarikan diri. Tidak. Itu bukan kebiasaan ‘Utsman. Rasa malulah yang menjadi akhlaq cantiknya. Kehalusan budi perhiasannya. Kedermawanan yang jadi jiwanya. Andai ‘Utsman jadi menyuruh sahayanya mengejar unta zakat itu; sang budak pasti dibebaskan karena Allah & dibekalinya bertimbun dinar.

Itulah ‘Umar. Dan inilah ‘Utsman. Mereka berbeda.

Bagaimanapun, Anas ibn Malik bersaksi bahwa ‘Utsman berusaha keras meneladani sebagian perilaku mulia ‘Umar sejauh jangkauan dirinya. Hidup sederhana ketika menjabat sebagai Khalifah misalnya.

“Suatu hari aku melihat ‘Utsman berkhutbah di mimbar Nabi ShallaLlaahu ‘Alaihi wa Sallam di Masjid Nabawi,” kata Anas . “Aku menghitung tambalan di surban dan jubah ‘Utsman”, lanjut Anas, “Dan kutemukan tak kurang dari tiga puluh dua jahitan.”

Dalam Dekapan ukhuwah, kita punya ukuran-ukuran yang tak serupa. Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita punya adalah; jangan mengukur orang dengan baju kita sendiri, atau baju milik tokoh lain lagi.

Dalam dekapan ukhuwah setiap manusia tetaplah dirinya. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat tulus pada saudara yang sedang diberi amanah memimpin umat. Tetapi jangan membebani dengan cara membandingkan dia terus-menerus kepada ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat pada saudara yang tengah diamanahi kekayaan. Tetapi jangan membebaninya dengan cara menyebut-nyebut selalu kisah berinfaqnya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat saudara yang dianugerahi ilmu. Tapi jangan membuatnya merasa berat dengan menuntutnya agar menjadi Zaid ibn Tsabit yang menguasai bahawa Ibrani dalam empat belas hari.

Sungguh tidak bijak menuntut seseorang untuk menjadi orang lain di zaman yang sama, apalagi menggugatnya agar tepat seperti tokoh lain pada masa yang berbeda. ‘Ali ibn Abi Thalib yang pernah diperlakukan begitu, punya jawaban yang telak dan lucu.

“Dulu di zaman khalifah Abu Bakar dan ‘Umar” kata lelaki kepada ‘Ali, “Keadaannya begitu tentram, damai dan penuh berkah. Mengapa di masa kekhalifahanmu, hai Amirul Mukminin, keadaanya begini kacau dan rusak?”

“Sebab,” kata ‘Ali sambil tersenyum, “Pada zaman Abu Bakar dan ‘Umar, rakyatnya seperti aku.
Adapun di zamanku ini, rakyatnya seperti kamu!”

Dalam dekapan ukhuwah, segala kecemerlangan generasi Salaf memang ada untuk kita teladani. Tetapi caranya bukan menuntut orang lain berperilaku seperti halnya Abu Bakar, ‘Umar, “Utsman atau ‘Ali.

Sebagaimana Nabi tidak meminta Sa’d ibn Abi Waqqash melakukan peran Abu Bakar, fahamilah dalam-dalam tiap pribadi. Selebihnya jadikanlah diri kita sebagai orang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku sebagaimana para salafush shalih dan sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain tak mengikuti.

Sebab teladan yang masih menuntut sesama untuk juga menjadi teladan, akan kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan yang sunyi dalam dekapan ukhuwah.

Ialah teladan yang memahami bahwa masing-masing hati memiliki kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya dan masing-masing kaki mempunyai sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan membawa damai. Dalam damai pula keteladannya akan menjadi ikutan sepanjang masa.

Selanjutnya, kita harus belajar untuk menerima bahwa sudut pandang orang lain adalah juga sudut pandang yang absah. Sebagai sesama mukmin, perbedaan dalam hal-hal bukan asasi
tak lagi terpisah sebagai “haq” dan “bathil”. Istilah yang tepat adalah “shawab” dan “khatha”.

Tempaan pengalaman yang tak serupa akan membuatnya lebih berlainan lagi antara satu dengan yang lain.

Seyakin-yakinnya kita dengan apa yang kita pahami, itu tidak seharusnya membuat kita terbutakan dari kebenaran yang lebih bercahaya.

Imam Asy Syafi’i pernah menyatakan hal ini dengan indah. “Pendapatku ini benar,” ujar beliau,”Tetapi mungkin mengandung kesalahan. Adapun pendapat orang lain itu salah, namun bisa jadi mengandung kebenaran.”

sepenuh cinta,
Salim A. Fillah
Sumber: Blog sebelah

Crew Petrosea'99

Karyawan Pupuk Kaltim Angkatan '99

Penghuni Barak Petrosea :

TMB : 25/02/99
                N   a   m   a                                           Alamat                                  Daerah Asal                        Daerah Rekrut
1.       B.Agus Nugroho Jati,SE                 Depok,Jawa barat            Baturaja                               Jakarta
2.       Tri Wigati Ningsih,SE                       Jl.Melati PC-VI                   Kediri                                    Jakarta
3.       Wisnu wibowo,ST,MSc                  Jl.Melati PC VI                   Surakarta                             Yogyakarta
4.       Budi Wahju Susilo,SE                      Jl.Melati,PC VI                   Magelang                            Yogyakarta
5.       Ahmad Syamsul Arief,ST               Jl.Kemuning PC VI            Pasuruan                             Yogyakarta
6.       Muhlis ahmadi,ST                            Jl.Melati PCVI                    Gresik                                   Yogyakarta
7.       Aris Munandar,Amd                       Jl.Kecubung PC VI            Klaten                                   Yogyakarta
8.       Yan Marten                                        Jl.GGn.arjuna No.22       Rangkas Bitung                 Bogor
9.       Uchin Mahazaki                                                Jl.Gn.Lokon no.23            Medan                                 Bogor
10.   Muhammad Habibie                       Jl.Gn.Lingga no.6              Sukabumi                            Bogor
11.   Sarjono                                                                Jl.Bayangkara 15               Bantul                                   Yogyakarta
12.   Muhammad Noor                            Jl.Gn.Dieng 24                   Ujung Pandang                 Bontang
13.   Sugeng Prayitno                               Jl.Gn.Malabar 31              Pati                                        Bontang
14.   Yustinus Slamet                                                Jl.Kapal Layar                     Kulonprogo                        Yogyakarta
15.   Hermansyah                                      Jl.DI Panjaitan                    Bontang                               Bontang
16.   Indrajaya Pananggolan                  Jl.Gn.Lokon 34                   Balikpapan                          Bontang
17.   Endah wulandari                              Jl.Diponegoro                    Cianjur                                  Bogor
.

Petrosea'99 Community


Petrosea’99

     Berawal dari kebersamaan yang terjalin erat calon karyawan baru PT.Pupuk Kalimantan Timur-Bontang angkatan tahun 1999. Rasa senasib sepenangunggan yang  mayoritas adalah perantau-perantau dari seberang Kalimantan ditambah dengan beberapa putra daerah yang telah disatukan dalam barak barak yang bernama Petrosea Camp, terbentuklah PETROSEA’99 COMMUNITY.

Sejarah Singkat PETROSEA’99 COMMUNITY
Keguyuban yang dituangkan dalam Petrosea’99 Community, tentunya tidak terjadi begitu saja. Bagaimana pun, selalu ada awal yang menjadi cikal bakal sejarah. Hal itu sangat benar, sebab berdasarkan sejarah komunitas di kota ini telah lahir tepat di awal Milenium 2000.

Dengan.........